Kamis, 13 Oktober 2011

Kehidupan di Negeri Orang

Kamis, 12 Oktober 2011

Setahun lebih sudah aku meninggalkan tanah air, Indonesia untuk tinggal di Grand Rapids, Michigan, The United States. Tinggal di Amerika itu tidak semudah yang kubayangkan. Mengurus dokumen-dokumen penting memang sebaiknya menggunakan jasa lawyer, jika tidak tahu peraturan main. Selain itu dari awal harus punya mental baja karena akan menjumpai banyak hal yang memerlukan proses adaptasi, mengingat aku tumbuh di negara yang menjunjung tinggi adat timur. Sebagai wanita Indonesia berdarah Indo-Tionghoa, banyak sekali hal-hal di Amerika yang tenyata sangat berbeda dengan hal-hal yang lazim aku jumpai di Indonesia. Jika dibuat daftar bisa-bisa dari A-Z bahkan A"- Z".

Belakangan ini aku menyadari bahwa aku juga tidak ingin nilai-nilai yang ditumbuhkan orang tuaku di dalam keluarga kami pupus hanya karena aku tinggal di Amerika, a free country - katanya. Aku tidak ingin berubah ke arah penurunan moral seperti seseorang yang pernah kukenal, yang telah mengalami 'degradasi moral' setelah 7-8 tahun tinggal dan bekerja (ilegal) di New York. Jangan sampai prinsip "kepala jadi kaki, kaki jadi kepala" ataupun "menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan" menjadi dasar pola pikirku dan mendasari tindakanku. Prinsip satu-satunya yang paling handal dan patut dipraktekkan dalam hidup keseharian kami hanya prinsip kekristenan. Bukannya sok religius lho ya... tapi menurut pengalaman hidup dan pendengaran tentang Firman Tuhan, membuatku percaya dan lebih mantap untuk mengakui hal tersebut.

Menjalani kehidupan di negeri orang, sudah jelas sulit dan berat, apalagi tidak ada sanak saudara di sini. Biarpun sudah setahun lebih di GR tapi koq ya aku masih merasa seperti turis. Mungkin karena masih banyak orang yang menatapku dengan pandangan "special" (ataukah ini hanya ge-er?) seperti saat aku melihat bule di Jakarta dulu? Selain rasa ge-er itu, ada saat-saat di mana aku down, kehilangan kesabaran, muncul kekuatiran yang ini lah - yang itu keq. Misalnya, dalam hal keamanan, di Amerika banyak orang yang bertingkah aneh bisa ditemui di area umum. Dalam hal kesehatan, makanan instant / semi instant cukup mendominasi pasaran sehingga jika salah pilih salah-salah malah menjadi penyakit. Sayuran / daging segar harganya mahal semua. Setiap pergi belanja, menulis list keperluan adalah wajib (!!!) untuk menghindari efek dompet bocor.
Di segi ekonomi, semua barang di Amerika harganya mahal, jeunk! Yang murah hanya ada di garage sale / thrifty store tapi kebanyakan barang bekas gitu euy! 
Di balik semua itu, katakan saja aku cukup beruntung (diberkati) dengan menikah dengan C, walaupun terkadang dia sumber emosi juga. Tanpa bermaksud men-generalisasi ataupun men-diskredit-kan western men, karakter C berbeda karena dia menjunjung tinggi nilai-nilai pernikahan kristen dan selalu berusaha menjadi penyabar. Dalam hal ini, C patut diacungi 2 jempol. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar