Sabtu, 28 Mei 2011

Sadar Hijau

Hari ini matahari bersinar kembali. Oh indahnya, cuaca hangat yang bersahabat seperti ini selalu membuatku ingat akan Jakarta yang panas. Dulu aku selalu menghindar untuk keluar rumah di siang yang panas, terutama hari Minggu. Jika sampai aku bepergian di siang terik, itu karena kepepet, misalnya lapar atau ingin ngadem di mall. Lucu juga jika ingat tempo doeloe.
Tahun ini aku dan C bersama-sama memulai menanam tanaman herbal dan sayuran sejak awal spring. C ingin memiliki tanaman hidroponik dan aku ingin di keperluan dapur tersedia di rumah, tinggal petik jika butuh. Kami memulai menanam secara indoor ( di dalam rumah) dari nol alias dari bibit. Dengan menggunakan lampu khusus untuk tanaman indoor, bibit-bibit tersebut mulai bertumbuh dengan baik, kecuali bayam. Mungkin aku terlalu banyak menyiramnya dengan air, sehingga bayam itu lemas lalu membusuk perlahan dan mati.
Mulai pertengahan bulan lalu, beberapa tanaman yang aku taruh di luar rumah agar terjangkau sinar matahari langsung. Ada beberapa macam yaitu : tomat, cabe, rosemary, oregano, thyme, dan mint.

Di dalam rumah, pemandangan "taman seperti hutan kecil" diramaikan dengan : tomat, tomatillo, cabe paprika (bell pepper), habanero, strawberry, cabe, kari, dill, taragon, sage, melon, selada, kemangi, parsley untuk bumbu, dan parsley keriting untuk garnis (hiasan pada makanan, sebagai sentuhan akhir). Juga ada 4 macam tanaman bunga, yang semuanya aku mulai dari bibit. Untuk pot, tidak semuanya aku beli. Sebisa mungkin menggunakan wadah bekas, misalnya jerigen susu, kemasan ayam panggang/roti, botol minuman ringan, kaleng bubuk kopi, dll.

Seminggu yang lalu aku mencoba lagi untuk menumbuhkan bayam, kali ini sekalian juga menanam ketumbar karena aku hanya punya 1 pohon ketumbar. Di sini lebih terkenal dengan nama "Cilantro", biasanya dipakai untuk masakan Mexico atau Asia. Aku memulainya dengan menaruh tanah di dalam plastik kemasan bekas wadah telur asin, dan di setiap lubang bekas telur itu aku taruh 2-3 butir bibit sedalam 2 mm. Memberi jarak pada tiap bibit sekitar 1 cm sengaja aku lakukan agar nantinya mereka tidak tumbuh saling menempel, yang akan menyusahkan saja nanti saat aku pindahkan ke pot yang lebih besar. Kemudian disiram dengan air yang khusus aku siapkan untuk tanaman (mengandung mineral yang dilarutkan sesuai kadar yang dianjurkan), kali ini aku lebih berhati-hati agar tidak terlalu becek dan juga terlalu "padang pasir". Untuk lampunya, aku pakai yang memiliki spektrum penuh agar kebutuhan tanaman terpenuhi dengan baik. Lampu ini aku beli dari toko tanaman favoritku. Rupanya dalam seminggu, bayam sudah menunjukkan tanda-tanda hijaunya. Cepat juga ya...hihihi senangnya... Rasanya seru deh, excited sekali.
Suatu ketika tanpa sengaja aku mematahkan satu pohon tomat, karena berusaha memasang tongkat bambu untuk menunjang batang pohon. Sempat panik juga, sedih... (padahal masih ada 22 pohon tomat lainnya). Duh bagaimana ini? Untungnya C punya ide bagus. Bagian atas pohon tomat yg aku patahkan itu kutaruh di air bermineral di dalam botol bekas saus salsa, cukup bagian kakinya saja yang tercelup. Alhasil, benar juga...! Tumbuh akar-akar baru lho! Ajaib rasanya. Aku berkelakar, bagaimana jika aku patahkan saja semua pohon tomat agar berhasil ganda :)
Memang bercocok-tanam kecil-kecilan adalah hobi yang menyenangkan, padahal tadinya aku hanya iseng-iseng ingin mengisi waktu luang saja. Ayo, manfaatkan waktumu dan kemasan botol plastik bekasmu untuk menanam. Indoor ataupun outdoor, layak dicoba. Selain go green kecil-kecilan, kamu juga akan menghemat pengeluaran untuk belanja keperluan dapur. Manfaat lainnya adalah manfaat psikologis, bersemangat dan tersenyum saat tanaman tumbuh besar dan saat waktunya panen. Tunggu apalagi!




1 komentar:

  1. tadi saya googling 'tanaman ketumbar' trus ketemu blog ini.

    terlalu "padang pasir" - maksudnya 'tandus' ya...

    "bersemangat dan tersenyum saat tanaman tumbuh besar dan saat waktunya panen" - saya suka ini
    haha :D

    BalasHapus